Globaldetik.com. Aceh Utara – Sebuah pekerjaan yang belum selesai kadang terlanjur dibaca sebagai hasil akhir. Begitu pula yang terjadi pada pembangunan di SMP Negeri 3 Dewantara, Aceh Utara.
Setelah sebelumnya muncul pemberitaan mengenai kondisi pekerjaan di sekolah tersebut, Kepala SMPN 3 Dewantara, Muhadar, angkat bicara. Ia memberikan klarifikasi terhadap dua hal yang menjadi sorotan: pemasangan keramik dan kondisi dinding bangunan.
Muhadar menegaskan, pekerjaan pembangunan masih berlangsung. Karena itu, menurut dia, kondisi yang terlihat saat ini belum dapat dijadikan gambaran utuh mengenai hasil akhir pekerjaan.
“ Ini masih dalam pekerjaan dan semuanya sudah kami jelaskan,” ujar Muhadar, Kamis (24/9/2026).
Mengenai keramik yang disebut dipasang dengan menindih permukaan lama, Muhadar tidak membantah bahwa pekerjaan tersebut sempat dilakukan oleh tukang.
Namun, justru karena dianggap tidak sesuai, pihak sekolah meminta pekerjaan itu dihentikan dan dibongkar.

“ Keramik itu memang tidak saya terima yang dipasang oleh tukang. Saya suruh bongkar, dan tadi pagi sudah dibongkar. Setelah itu dipasang kembali sesuai teknis,” kata Muhadar.
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa bagian pekerjaan yang dinilai tidak sesuai tidak dibiarkan begitu saja. Pihak sekolah, kata Muhadar, melakukan pengawasan dan meminta perbaikan ketika menemukan pengerjaan yang tidak sesuai dengan metode yang diharapkan.
“ Kalau tidak sesuai, tentu kami tidak terima. Karena itu langsung dibongkar dan dikerjakan kembali sebagaimana mestinya,” ujarnya.
Dengan kata lain, pekerjaan yang sempat dipersoalkan tersebut menurut pihak sekolah bukanlah hasil akhir yang diterima begitu saja. Ada koreksi di lapangan dan koreksi itu diikuti pembongkaran.
Sorotan berikutnya menyangkut dinding yang terlihat terbelah atau mengalami keretakan.
Di bagian ini, Muhadar memberikan penjelasan yang cukup penting. Ia mengatakan dinding tersebut merupakan konstruksi lama yang memang belum masuk dalam tahapan perbaikan.
“ Dinding itu memang belum kami perbaiki. Itu dinding lama dan belum tersentuh,” katanya.
Penjelasan ini membuat konteks persoalan menjadi berbeda. Kondisi dinding lama yang belum ditangani, menurut keterangan pihak sekolah, tidak serta-merta dapat dikaitkan sebagai kerusakan yang timbul akibat pekerjaan pembangunan yang sedang berjalan.
Muhadar mengatakan setiap bagian bangunan memiliki tahapan pengerjaan masing-masing. Karena itu, masih terdapat sejumlah bagian yang belum mendapatkan penanganan.
Ia berharap kondisi sementara di lapangan tidak langsung diposisikan sebagai gambaran akhir proyek.
Muhadar menegaskan pihak sekolah tetap melakukan pemantauan terhadap pekerjaan yang berlangsung.
Jika ditemukan pengerjaan yang tidak memenuhi ketentuan teknis, sekolah akan meminta kontraktor maupun pekerja melakukan pembenahan.
Sikap tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pihak sekolah tidak menutup mata terhadap proses pekerjaan. Sebaliknya, menurut Muhadar, pekerjaan yang tidak sesuai justru diminta untuk diperbaiki.
Sekolah juga menyatakan terbuka terhadap kontrol masyarakat dan pemberitaan media. Namun, ia berharap setiap temuan dikonfirmasi terlebih dahulu kepada pihak terkait sehingga kondisi sementara tidak berubah menjadi kesimpulan seolah-olah pekerjaan telah selesai.
Sebab, proyek yang masih berjalan memang menyisakan bagian-bagian yang belum tersentuh. Di satu sisi ada pekerjaan yang telah dilakukan, di sisi lain ada bagian lama yang belum masuk tahap perbaikan.
“ Kami sudah menjelaskan kondisinya. Ada bagian yang memang sudah dikerjakan, ada pula yang belum tersentuh karena prosesnya masih berlangsung,” pungkas Muhadar.
Klarifikasi tersebut sekaligus memberikan ruang bagi publik untuk melihat persoalan pembangunan SMPN 3 Dewantara secara lebih lengkap.
Kritik dan kontrol tetap diperlukan, tetapi fakta di lapangan juga perlu ditempatkan sesuai konteks: mana pekerjaan baru, mana bagian lama, mana yang sudah diperbaiki, dan mana yang memang belum masuk tahap pengerjaan.

