Nagan Raya, Aceh-Setahun delapan bulan sudah sejak dilantik 19 Februari 2025 yang Lalu pasangan Teuku Raja Keumangan dan Raja Sayang sebagai bupati dan wakil Bupati Nagan Raya periode 2024-2029, belum terlihat gerakan yang signifikan, pemerintahan yang sering disebut pasangan TRK-Sayang ini hanya terlena dengan kegiatan seremoni saja.

Dari sejumlah platform berita terlihat TRK bertemu dengan sejumlah pejabat pusat dan sering memberikan cindera mata giok alam, namun belum ada hasil sama sekali, sejumlah kalangan menilai apa yang disampaikan saat kampanye dulu sangatlah bertolak belakang dengan realita dilapangan, dibandingkan keberhasilan 2 Bupati kabupaten tetangga Aceh Barat dan Aceh Barat daya, dalam kurun waktu kepemimpinan mereka begitu banyak program dan anggaran yang dibawa dari pemerintah pusat.

Dalam pantauan penulis, sejumlah persoalan rakyat tidak terselesaikan seperti korban banjir dibeutong ateuh, hingga kini mereka masih tinggal dihunian sementara, konon lagi sejumlah fasilitas umum yang porak-poranda belum tersentuh sama sekali.

Kesedihan juga dirasakan oleh warga desa Alue Wakie kecamatan darul makmur,akses satu-satunya yaitu jembatan yang putus diterjang banjir tahun lalu hingga kini belum diperbaiki.

Hal yang sama juga dialami warga desa krueng mangkom dan Alue Buloh kecamatan seunagan yang harus menyebrang dengan rakit melewati derasnya arus sungai krueng Nagan, bahkan ratusan putra putri Nagan Raya yang bekerja disalah satu perusahan tambang batu bara harus mempertaruhkan nyawa nya dikala arus sungai krueng Nagan meluap sementara mereka harus tetap bekerja.

Sementara dibidang pemerintahan pun belum ada yang bisa dibanggakan, persoalan mutasi jabatan puluhan pejabat yang melanggar aturan hingga kini belum ada kejelasan, mirisnya lagi sejumlah pejabat memiliki rangkap jabatan dan sejumlah camat belum definitif yang tentunya sangat menganggu pelayanan publik.

Kini masyarakat bingung harus berharap dari siapa, sementara ada lembaga Dewan perwakilan rakyat (DPRK), sepertinya berjalan sangat mesra dan diduga terjadi perselingkuhan politik, ini terlihat dimana ada Bupati disitupun ada ketua DPRK,dan bukti nyata seluruh anggota DPRK belum pernah mengkririk setiap kebijakan dari Bupati TRK, terlihat saat warga menolak izin pertambangan di Beutong Ateuh Banggalang, hanya satu anggota dewan yang bersuara mendukung masyarakat yaitu Cut man dari partai PNA, sementara yang lainnya menyatakan mendukung investasi 200 Trilyun.

Isu terakhir yang juga menuai pro dan kontra masyarakat negri berjulukan”Rameune”.Bahwa Pemerintah Nagan Raya akan membentangkan Bendera merah putih sepanjang 24 kilo meter,dari bandara Cutnyakdhien kuala pesisir menuju masjid Giok di suka makmue.

Pro kontra masyarakat cukup beralasan karena untuk beli bahan bendera tersebut menghabiskan anggaran sekitar 1,6 Milyar tentu bukan nominal yang sedikit untuk kegiatan seremoni ini,alangkah baiknya dana sebesar itu digunakan untuk membangun rumah bagi warga yang kurang mampu.

Kesetian untuk Negara kesatuan republik Indonesia(NKRI)tidak harus ditunjukkan secara berlebihan cukup dengan mengisi kemerdekaan,menghormati para pahlawan,memperingati hari kemerdekaan dan ikut menjaga kamtibmas.

Tulisan ini hanyalah secuil masalah yang diutarakan sementara kenyataannya bermacam persoalan dimasyarakat Nagan Raya saat ini yang perlu segera dituntaskan terutama persoalan dasar untuk kehidupan masyarakat kecil.

Akhir nya kita berharap sisa jabatan Bupati TRK-Sayang bisa menepati janjinya untuk menjadikan Nagan Raya seperti Brunai Darussalam….

Semoga (ADV.T.Ridwan,Ssos,SH Ketua BPW Pekumpulan Advokaten Indonesia Aceh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *