​ACEH TAMIANG, GLOBALDETIK.com – Lembaran kalender mungkin telah berganti, namun ingatan akan dahsyatnya banjir bandang November 2025 masih terekam jelas di benak warga Aceh Tamiang. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muda Sedia, sebagai benteng pertahanan kesehatan utama di Bumi Muda Sedia, menjadi salah satu fasilitas yang terdampak paling parah dengan kerusakan infrastruktur yang masif.

​Di bawah kepemimpinan dr. Andika Putra, rumah sakit ini menolak untuk menyerah pada keadaan dan memilih jalan untuk segera berbenah. Salah satu Moment terbaik terlihat pada 12 Maret 2026, ketika Direktur RSUD Muda Sedia tersebut turun langsung ke Jakarta untuk menjemput bantuan 7 unit ambulance baru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

​Kehadiran tujuh unit armada medis ini merupakan langkah strategis untuk menggantikan tulang punggung operasional yang sempat patah. Pada saat banjir bandang menerjang tahun lalu, mayoritas armada ambulance milik rumah sakit terendam air dan lumpur hingga mengalami kerusakan total, membuat mobilitas layanan kesehatan sempat lumpuh seketika.

​Selama masa-masa sulit pasca-bencana, operasional RSUD Muda Sedia sebenarnya tidak benar-benar terhenti sepenuhnya. Namun, layanan rujukan hanya mampu ditopang oleh 4 unit ambulance yang ada, itu pun merupakan bantuan tulus dari para relawan yang tergerak melihat kondisi Aceh Tamiang yang sangat memprihatinkan.

​dr. Andika Putra mengakui bahwa jumlah armada yang ada saat ini memiliki keterbatasan dalam menangani lonjakan pasien terutama pasien rujukan. Oleh karena itu, diplomasi dan koordinasi intensif dilakukan dengan pemerintah pusat guna memastikan ketersediaan sarana transportasi medis yang sesuai standar keamanan pasien.

​Langkah penjemputan bantuan di Kemenkes RI pada pertengahan Maret ini menjadi simbol bahwa RSUD Muda Sedia telah melewati masa kritis dan kini memasuki fase akselerasi pelayanan. Tujuh unit ambulans baru tersebut diproyeksikan akan langsung diintegrasikan ke dalam sistem kegawatdaruratan rumah sakit guna memperpendek waktu respons (response time).

Tak hanya itu, meski kondisi rumah sakit saat ini memang sedang berada dalam fase transisi besar-besaran, di mana perbaikan fisik gedung berjalan beriringan dengan pemulihan mental para tenaga medis. Begitu juga dengan sisa-sisa trauma bencana diubah menjadi energi positif untuk membangun sistem layanan yang lebih tangguh terhadap potensi bencana di masa depan.

Andika juga mengungkapkan upaya bangkit ini bukan tanpa tantangan, mengingat banyak alat kesehatan sensitif yang juga perlu dikalibrasi ulang atau diganti akibat kelembapan tinggi selama banjir. Namun, dr. Andika menekankan bahwa perbaikan armada ambulance adalah prioritas utama karena berkaitan langsung dengan kecepatan penyelamatan nyawa manusia.

​“Kita tidak bisa hanya meratapi kerusakan yang ditinggalkan banjir November lalu. Masyarakat Aceh Tamiang membutuhkan kepastian bahwa saat mereka sakit, rumah sakit ini siap menjemput dan melayani dengan fasilitas yang layak,” tegas dr. Andiika di sela-sela kegiatannya, Senin (16/3/2026).

​Ke depan, manajemen RSUD Muda Sedia berkomitmen untuk meningkatkan standar perawatan dan pemeliharaan aset agar kejadian serupa tidak memberikan dampak yang separah sebelumnya. Pembangunan sistem proteksi fasilitas kesehatan terhadap bencana kini menjadi agenda prioritas dalam rencana strategis kepemimpinan dr. Andhika.

​Dengan tambahan armada yang baru dan semangat pengabdian yang kian solid, RSUD Muda Sedia optimis dalam upaya percepatan peningkatan pelayanannya secara maksimal. Perjalanan menjemput 7 ambulans di Jakarta adalah langkah awal dari lari maraton panjang menuju pelayanan kesehatan prima bagi seluruh rakyat Aceh Tamiang. [Andre]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *