Subulussalam Globaldetik. Com Di tengah riuh pembangunan Gedung Koperasi Merah Putih (KMP), sosok Kepala Kampong Simolap, Kecamatan Sultan Daulat, tampil tak biasa. Ia bukan sekadar memberi instruksi dari jauh. Dengan tangan sendiri, ia mengangkat, mengukur, dan menyusun rangka kuda-kuda bangunan. Enerjik, sederhana, dan penuh ketulusan. Rabu (8/4), pemandangan itu menyita perhatian.

Seorang kepala desa yang juga merangkap sebagai kepala tukang. Bukan pencitraan, tapi panggilan jiwa yang telah lama melekat.
“Bagi saya, jadi tukang itu biasa saja,” ujarnya sambil tersenyum ramah. “Sebelum jadi kepala kampong, saya sudah puluhan bahkan ratusan kali membangun rumah. Memang itu latar belakang saya.”
Namun yang membuat perannya terasa berbeda bukan sekadar keahlian teknis. Ada visi sosial yang ia bawa. Ia menjadikan pembangunan KMP bukan hanya soal berdirinya gedung, tetapi juga tentang menghidupkan ekonomi warga.
“Saat saya jadi kepala tukang, saya bisa ajak warga ikut kerja harian. Satu dua orang, bahkan lebih. Setidaknya ada 4–5 kepala keluarga yang bisa terbantu. Itu sudah cukup berarti,” tuturnya ringan, diselingi tawa kecil.
Baginya, pembangunan bukan hanya tentang semen dan rangka baja. Tapi juga tentang rasa memiliki. Tentang kebersamaan yang tumbuh dari peluh yang sama.


Dari penelusuran awak media, peran ganda ini tak hanya terjadi di Simolap. Di tiga desa dalam Kecamatan Sultan Daulat, pola serupa terlihat. Kualitas bangunan tetap terjaga, namun yang lebih menonjol adalah keterlibatan masyarakat dalam setiap proses pembangunan.
Nama Muhamad Nurahman—yang akrab disapa warga—menjadi sosok sentral. Ia mampu menjembatani peran sebagai pemimpin kampong sekaligus pekerja lapangan. Komunikasinya sederhana, tapi menyentuh. Kepemimpinannya tidak berjarak.
Tak heran, kolaborasi dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas di wilayahnya pun berjalan cair. Tidak kaku, tidak formalistik. Semua bergerak dengan satu tujuan: membangun kampong dengan kebersamaan.

Pimpinan LSM Suara Putra Aceh, Anton Steven Tin, turut mengapresiasi pendekatan tersebut.
“Kami melihat ini contoh baik. Kualitas bangunan terjaga, tapi yang lebih penting ada pemberdayaan masyarakat. Warga merasa memiliki. Ada komunikasi yang hidup. Ini yang jarang,” ujar Anton.
Gedung KMP yang dibangun perlahan menjelma bukan sekadar fasilitas ekonomi. Ia menjadi simbol gotong royong. Simbol kehadiran pemimpin yang turun langsung, bukan hanya hadir di atas kertas.
Masyarakat pun berharap, pola seperti ini bisa terus dipertahankan. Bahwa pembangunan desa tidak hanya meninggalkan bangunan fisik, tapi juga jejak kebersamaan dan kemandirian.
Di Simolap, seorang kepala kampong telah memberi contoh sederhana: memimpin tidak selalu dari depan meja, kadang cukup dari atas rangka bangunan—bersama rakyatnya.(rj uli)

