GLOBALDETIK.COM| Aceh Timur – Dalam upaya memperkuat pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik, SMK Negeri 1 Julok, Aceh Timur, menggelar kegiatan pengajian rutin setiap hari Jumat yang dilaksanakan di Mushalla Bahrul Ilmi sekolah tersebut.
Kepala SMKN 1 Julok, Faisal, ST., M.Pd, kepada Globaldetik.com, Jum’at (09/45/2025) menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan karakter siswa.
“Kegiatan ini kita laksanakan setiap Jumat di Mushalla sekolah. Tujuannya adalah untuk meningkatkan karakter dan akhlak murid. Semoga dengan menjadikan mushalla sebagai tempat menimba ilmu agama, anak-anak kami benar-benar bisa menyelami ‘lautan ilmu’,” ujar Faisal.
Pengajian Jumat ini diisi oleh guru-guru Pendidikan Agama Islam (PAI) secara bergiliran. Untuk pekan ini, tausiah disampaikan oleh Tgk. Affandi, M.Pd., salah satu guru agama di sekolah tersebut.
Dalam ceramahnya, Tgk. Affandi mengangkat tema Adab Guru dan Murid, yang merujuk pada kitab klasik Siyarus Salikin. Ia menjelaskan, adab seorang murid terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu adab terhadap dirinya sendiri dan adab terhadap gurunya.
“Adab terhadap diri sendiri terdiri dari tujuh hal, di antaranya menyucikan hati dari sifat tercela seperti ujub, takabur, riya, dan hasad. Hati harus dibersihkan dengan sifat ikhlas, benar, zuhud, dan tawadhu,” jelas Tgk. Affandi.
“Adapun adab kepada guru mencakup penghormatan, kesopanan, dan keseriusan dalam menuntut ilmu, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Siyarus Salikin,” tambahnya.
Selain itu, Tgk. Affandi juga memaparkan adab guru terhadap murid, yang jumlahnya mencapai 17 poin penting. Di antaranya adalah tidak merasa malu untuk mengakui jika tidak tahu, tidak meminta bayaran dalam mengajar, serta menunjukkan kasih sayang kepada murid layaknya kasih sayang seorang ayah kepada anaknya.
“Sabda Nabi SAW: Aku bagimu seperti seorang ayah bagi anaknya. Maka hubungan guru dan murid seharusnya dilandasi kasih sayang, bukan semata formalitas,” tuturnya.
Tgk. Affandi juga menekankan bahwa guru juga memiliki tanggung jawab moral dalam mendidik.
“Seorang guru tidak boleh malu berkata ‘saya tidak tahu’ jika memang belum memahami suatu ilmu. Guru juga tidak boleh mengajar hanya karena mengharap bayaran, tapi karena kasih sayang dan niat mendidik. Nabi SAW bersabda: Aku bagi kalian bagaikan ayah bagi anak-anaknya,” tutupnya.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para siswa dan guru. Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Muhammad Nasir, S.Pi., M.Si berharap pengajian ini menjadi budaya sekolah yang terus mengakar.
“Kami ingin siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual dan berakhlak mulia. Semoga ini menjadi ladang pahala dan sumber keberkahan bagi sekolah kita,” ungkapnya.
Nasir juga menyampaikan bahwa kegiatan ini selaras dengan program penguatan pendidikan karakter (PPK) yang dicanangkan pemerintah.
“Kita ingin membangun kultur sekolah yang religius dan humanis. Kegiatan seperti ini penting agar anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, santun, dan rendah hati,” ujarnya.
Salah satu siswa kelas XI, Nabila, mengaku senang mengikuti pengajian ini. Ia merasa materi yang disampaikan menyentuh langsung kehidupan sehari-hari mereka sebagai pelajar.
“Saya baru sadar ternyata banyak hal kecil yang kita anggap biasa, seperti bersikap cuek kepada guru, itu bisa jadi bentuk kurang adab. Pengajian ini membuka mata dan hati kami,” kata Nabila.
Guru PAI lainnya, Fitriani, S.Pd.I yang akan menjadi pemateri di pekan depan menyatakan bahwa tema pengajian akan dibuat variatif dan menyentuh berbagai aspek kehidupan siswa.
“Kami akan bahas tema-tema seperti pentingnya salat, menjaga lisan, pergaulan remaja dalam Islam, hingga akhlak digital. Semua disampaikan dengan pendekatan yang ringan namun bermakna,” jelasnya.
“Program pengajian ini juga menjadi ajang kolaborasi antar guru dalam menyusun materi-materi yang kontekstual. Setiap guru diberikan kesempatan menjadi pemateri sesuai jadwal yang disepakati bersama” sambung Fitriani.
Pengajian Jumat ini diharapkan terus menjadi tradisi mulia yang memperkaya nilai spiritual di lingkungan sekolah kejuruan tersebut.
(AR)

