Subulussalam Globaldetik. Com Di tengah lanskap pemberitaan lokal yang kerap berhenti pada permukaan, nama Antoni Tinendung muncul sebagai pengecualian. Gaya penulisan yang memadukan pendekatan investigatif ala Futurenews dan ketajaman narasi khas Spornews menjadikannya bukan sekadar penyampai informasi, melainkan pengurai benang kusut persoalan publik.

Dalam sejumlah kasus besar di Kota Subulussalam, pendekatan jurnalistiknya menonjol karena tidak hanya mengandalkan keterangan formal, tetapi menggali celah-celah yang sering luput dari perhatian. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah upaya membongkar dugaan persoalan hukum terkait Hak Guna Usaha milik PT Laot Bangko.

Menguliti HGU: Antara Prosedur dan Substansi
Melalui serangkaian wawancara mendalam dengan masyarakat, praktisi hukum, hingga pihak terkait, Antoni memotret persoalan HGU bukan sekadar konflik lahan biasa. Ia menyoroti dugaan cacat prosedural dalam penerbitan izin, sekaligus mempertanyakan aspek substansial terkait distribusi manfaat, khususnya pada skema plasma yang dinilai tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Alih-alih mengulang narasi resmi, tulisannya justru mengajak pembaca melihat dari sudut pandang masyarakat yang selama ini merasa terpinggirkan. Ia membedah istilah hukum menjadi bahasa yang mudah dipahami, tanpa kehilangan kedalaman analisis.

“Di situ pembaca bisa membedakan mana air dan mana kuah,” ujar seorang aktivis lokal, menggambarkan bagaimana tulisan Antoni mampu menghadirkan batas tegas antara fakta, opini, dan kepentingan.
Dari Wawancara ke Fakta: Membuka Tabir Korupsi
Tak berhenti pada isu agraria, Antoni juga dikenal melalui pengungkapan kasus dugaan korupsi dana hibah pengawasan Pemilukada di Kota Subulussalam. Dengan pendekatan wawancara yang tajam dan berlapis, ia berhasil mengurai kronologi yang sebelumnya tertutup rapat.

Rangkaian laporannya menjadi salah satu referensi publik dalam memahami alur kasus yang berujung pada penetapan lima tersangka. Meski jurnalisme tidak menentukan putusan hukum, keberadaan informasi yang terang dan terverifikasi memberi ruang bagi aparat penegak hukum—mulai dari kepolisian hingga kejaksaan—untuk bekerja dengan perspektif yang lebih utuh.
Jurnalisme sebagai Kontrol Sosial
Antoni tidak menempatkan dirinya sebagai aktor dalam proses hukum, melainkan sebagai pengawas di persimpangan kekuasaan. Dalam setiap tulisannya, terlihat upaya menjaga jarak dari kepentingan, namun tetap berpihak pada nilai keadilan.

Gaya bahasanya yang lugas, disertai sentuhan filosofis, menjadi kekuatan tersendiri. Ia tidak hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan makna di baliknya—tentang keadilan, keberpihakan, dan suara masyarakat kecil yang kerap tenggelam.
Di Kota Subulussalam, di mana dinamika sosial dan kepentingan kerap berkelindan, kehadiran jurnalis dengan dedikasi semacam ini menjadi penting. Bukan untuk menggantikan peran hukum, tetapi memastikan bahwa setiap proses berjalan dalam sorotan publik.

Karena pada akhirnya, jurnalisme bukan sekadar menulis berita—melainkan membuka apa yang lama tertutup, dan memastikan kebenaran tidak kehilangan jalannya.raja uli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *