
Kepedulian Komnas PKLH terhadap lingkungan terutama pengendalian sampah plastik merupakan sebuah ancaman bagi lingkungan sekitar.
Ketua Komnas PKLH Provinsi Aceh Raden Endang mengatakan sampah menjadi tantangan besar global, di mana dampaknya menimbulkan ancaman terhadap keberlanjutan lingkungan.
Oleh sebab itu, PKLH hadir untuk memberikan solusi dengan menciptakan inovasi baru melalui metode Ecobrick.
Dijelaskan, Ecobrick adalah salah satu contoh kreasi kerajinan yang terbuat dari limbah atau sampah plastik yang revolusioner dimana manfaatnya sangat besar bagi kehidupan manusia. Ecobrick juga menjadi salah satu solusi di tengah kebuntuan pengelolaan limbah plastik.
Menurut Endang, hal klasik yang sangat menjadi perhatiannya selaku Ketua Komnas PKLH adalah sampah.
“Berdasarkan hasil identifikasi kami di lapangan, sampah yang di eksekusi oleh Dinas Lingkungan Hidup Aceh Tamiang saat ini mencapai rata-rata 28 Ton perharinya. Sampah itu di tempatkan pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) setempat”, Katanya.
“Jumlah ini sebenarnya lumayan besar sebab apabila penumpukan ini terjadi selama 30 hari, maka terjadilah 840 ton tumpukan sampah di sana”, Sambungnya.
Untuk hal itu ia mencoba mengadopsi satu sistem pemilahan sampah dalam hal ini khusus sampah plastik dengan metode ECOBRICK.
Menurutnya lagi, metode ini sangat ramah lingkungan dan hemat, serta penerapannya juga tidak membutuhkan biaya yang besar.
“Saya melihat metode ini lebih mengarah kepada pembangunan moral masyarakat, kebersamaan dan gotong royong, untuk itu metode ECOBRICK perlu dukungan dari masyarakat dan Pemerintah yang nantinya dapat bergandeng tangan menciptakan hunian yg bersih aman dan nyaman”, Ungkap Endang.
Kami Komnas PKLH Provinsi Aceh telah sepakat akan mempersembahkan “Satu Juta Ecobrick Untuk Aceh Tamiang”.
Selain menjadi solusi pengelolaan limbah plastik, inovasi ini juga memberikan manfaat yang beragam, baik dari secara fungsional maupun ekonomis.
Dari segi fungsional, ecobrick sering digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan berbagai produk, termasuk furnitur dan bahkan material dalam konstruksi bangunan.
Meskipun sederhana, ecobrick mampu menjadi pengganti material bangunan konvensional seperti batu bata merah atau batako.
Sejalan dengan fungsinya, ecobrick juga memiliki nilai ekonomis. Ecobrick adalah material yang murah, sehingga mampu menghemat biaya produksi.
Dewasa ini, ecobrick sudah banyak diperjualbelikan melalui situs jual beli online.
Beberapa bank sampah di Indonesia juga membeli ecobrick dengan bayaran uang tunai.
Selain menjaga lingkungan, pembuatan ecobrick juga tidak makan banyak biaya, waktu, serta tenaga.
Bahkan kata Endang, pengelolaan limbah satu ini dapat dibuat secara mandiri dengan mudah.
