Globaldetik.com | ACEH UTARA – Seunuddon, 28 Maret 2025 Bayangan neraka masih membayangi Dusun Rawang Itek, Desa Meunasah Sagoe. Bukan mimpi buruk biasa, melainkan tragedi yang menghancurkan hidup Badriah (70) Tahun, seorang janda renta yang hidupnya telah lama diukir oleh kesederhanaan, ketabahan, dan kesendirian yang menyayat hati. Rumahnya, yang selama puluhan tahun menjadi saksi bisu perjuangannya menghadapi kerasnya hidup, kini hanya menyisakan tumpukan abu dan puing-puing yang menghitam, mencerminkan betapa rapuhnya kehidupan seorang manusia tua di hadapan amukan si Jago Merah yang tak kenal ampun.
Pukul 00.49 WIB, saat dunia tertidur lelap dalam kedamaian malam, si Jago Merah tiba-tiba menerjang rumah kecil Badriah. Bukan sekadar kobaran api, melainkan monster ganas yang datang tanpa permisi, menelan segalanya dalam hitungan menit. Bayangkan, seorang nenek renta yang sendirian, terbangun dari tidur nyenyaknya oleh kepanasan yang menyengat, oleh teriakan api yang menjilat dinding rumahnya. Bayangkanlah kepanikan yang melanda hati tua Badriah, ketika ia melihat rumahnya, satu-satunya tempat bernaung, terbakar habis di hadapan matanya. Bayangan keputusasaan, dingin dan mencekam, pasti membayangi setiap langkahnya yang tertatih, saat ia berjuang menyelamatkan diri dari kobaran si Jago Merah yang semakin membesar, menelan rumahnya dalam dekapan api yang tak kenal belas kasihan. Setiap langkahnya adalah pertaruhan hidup dan mati, diiringi teriakan histeris yang mungkin hanya terdengar oleh Allah SWT
Badriah berhasil meloloskan diri dari cengkeraman maut, namun dengan luka yang begitu dalam, luka yang akan selamanya menjadi pengingat akan malam kelabu itu. Tubuhnya kini terluka parah akibat luka bakar yang membelit sekujur kulitnya, kulit yang telah setia menemaninya melewati panas terik dan hujan deras selama tujuh puluh tahun. Bayangkan, kulit keriputnya, yang telah menyimpan begitu banyak cerita kehidupan, kini terluka dan menghitam karena siksaan api yang tak kenal ampun. Wajah renta yang biasanya dihiasi senyum teduh, meski diukir oleh garis-garis waktu dan kesedihan, kini terbalut rasa sakit yang tak terperi, rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang sumsum, rasa sakit yang tak akan pernah bisa diobati sepenuhnya. Ia dilarikan ke rumah sakit di Lhokseumawe, membawa serta beban berat yang tak hanya berupa rasa sakit fisik yang menyiksa, tetapi juga hancurnya harapan akan masa depan yang telah lama ia impikan, harapan yang kini hanya tinggal abu.
Tiga unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan, namun satu unit terlambat tiba di lokasi. Bayangkanlah betapa lambatnya waktu berlalu bagi Badriah di tengah kepungan si Jago Merah yang semakin membesar, menelan rumahnya sedikit demi sedikit, menghancurkan setiap sudut yang menyimpan kenangan berharga. Setiap detik terasa seperti sebuah abad, setiap menit adalah sebuah siksaan yang tak tertahankan. Dua unit mobil pemadam kebakaran yang berhasil sampai ke lokasi berjibaku memadamkan si Jago Merah, namun api telah berhasil menghancurkan sebagian besar rumahnya, membawa pergi segalanya, menghancurkan impian dan harapan Badriah.
Rumah kecil itu, bukan sekadar tempat berteduh, melainkan tempat bersemayamnya kenangan, harta benda yang telah dikumpulkannya selama puluhan tahun dengan susah payah. Satu unit sepeda motor Honda Scoopy, penghasilan dari jerih payahnya yang tak kenal lelah, kini menjadi tumpukan besi yang tak bernyawa. Sebanyak 15 karung gabah padi, hasil panen yang diharapkan dapat menopang kehidupannya yang sederhana, kini menjadi abu, menghilang ditelan si Jago Merah. Dapur, tempat ia memasak dan menghidupi dirinya, kini hanya tinggal puing-puing yang menghitam, mencerminkan kepiluan yang mendalam. Semua itu, lenyap ditelan si Jago Merah yang kejam, meninggalkan Badriah dalam kesendirian dan keputusasaan
Kerugian materiil yang ditaksir mencapai puluhan juta rupiah hanyalah sebagian kecil dari penderitaan Badriah. Yang lebih menyayat hati adalah kondisi Badriah yang hingga berita ini diturunkan masih belum sadarkan diri, terbaring lemah di rumah sakit, menanti keajaiban untuk kembali melihat dunia. Doa dan harapan mengiringi langkahnya menuju kesembuhan, semoga Badriah dapat kembali melihat senja dengan hati yang lebih tenang, meski rumah dan harta bendanya telah menjadi abu, meski luka bakar itu akan selalu menjadi tanda pilu atas tragedi malam kelabu itu. Kejadian ini juga menjadi pengingat betapa pentingnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam mencegah kebakaran. Semoga musibah ini tidak terulang kembali.Geuchik Meunasah Sagoe, Zakaria, berharap agar Badriah dapat diselamatkan dari luka bakar yang dideritanya, agar ia dapat kembali merasakan hangatnya kehidupan, meski kehidupan itu telah direnggut sebagian besar oleh amukan si Jago Merah
(Red)

