Globaldetik.com | Langsa – Pelatihan Kerajinan Tradisional Aceh Ranup Meususon berhasil membangkitkan minat dan keingintahuan muda-mudi di Kota Langa terhadap tradisi Aceh. Pelatihan yang diadakan di De Classic Cafe pada Sabtu (31/8/24) ini diikuti oleh 15 orang peserta.

Tampak para peserta sangat serius dalam menyelesaikan kerajinan Ranup Meususon meskipun kesulitan dalam menyusun dan merangkai daun sirih hingga terlihat indah. Setiap kelompok peserta yang terdiri dari 3 orang tercatat bisa menciptakan karya tersebut dalam waktu 40 sampai 60 menit.

Salah seorang peserta pelatihan Putris (24) merasa senang bisa lebih mengenal tradisi dan belajar membuat kerajinan tradisional Aceh seperti Ranup Meususon. Menurutnya, generasi saat ini banyak yang tidak mengetahui tradisi semacam ini.

“Rasanya senang karena pelatihannya seru, yang ngajarin juga baik jadi cepat memahami apa yang disampaikan, sebelumnya juga belum pernah tahu kalau sirih bisa dijadikan kerajinan seperti ini”, ujarnya.

Foto: hasil kerajinan tradisi Aceh Ranup Meususon

Di sisi lain, pelaksana kegiatan Isra Fahriati, S.Pd, M.Sn juga menjelaskan Pelatihan Kerajinan Tradisional Aceh Ranup Meususon ini merupakan kegiatan yang didorong dan didukung oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Provinsi Aceh. Dirinya mengaku tidak pernah merasa lelah dalam melestarikan budaya.

“Kami sebagai pelaku seni, lembaga komunitas, juga komunitas budaya selalu optimis tidak pernah merasa lelah untuk melakukan 4 pilar di dalam kebudayaan”, ungkapnya.

Dijelaskannya 4 pilar tersebut yaitu pengembangan, pelestarian, pemanfaatan, dan pembinaan. Sementara saat ini di Provinsi Aceh khususnya Kota Langsa masih dalam tahap pelestarian.

“Dalam tahap pelestarian ini kami terus menggali potensi anak untuk mengenal dan cinta kembali terhadap tradisi yang merupakan kearifan lokal di Kota Langsa”, tambahnya.

Ranup Meususon memiliki arti “sirih yang disusun”, kerajinan ini merupakan keterampilan dalam menyusun sirih. Kerajinan ini sering dipakai pada acara adat Aceh, seperti intat linto baro dan tueng dara baro. Harapannya dengan menguasai keterampilan kerajinan ini, para peserta dapat melestarikan budaya Aceh dan bisa menggali potensi ekonomis.

“Harapannya para peserta dapat lebih mengenal tradisi dan juga di Kota Langsa yang kita lihat saat ini pengrajin tradisional sangat sulit ditemukan, bahkan saya sendiri harus membeli dari luar daerah saat mengadakan acara”, tutup Isra.

 

(Fatih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *