Lapangan pertempuran di Idi menyaksikan pertarungan sengit antara pasukan Aceh dan Belanda. Gambaran yang muncul bukanlah sekadar pertempuran militer, melainkan juga cerminan semangat juang dan tekad yang gigih dari rakyat Aceh. Pasukan Aceh, meskipun secara kasat mata kekurangan persenjataan dibandingkan dengan kekuatan militer Belanda yang lebih modern dan terlatih, terus melancarkan serangan demi serangan. Tujuan mereka satu: mengusir Belanda dari Idi. Pertempuran-pertempuran yang hampir terjadi setiap hari ini menggambarkan betapa gigihnya perlawanan yang mereka berikan.
Meskipun Belanda secara umum berhasil mempertahankan posisi mereka dalam pertempuran-pertempuran ini, keberanian dan tekad pasukan Aceh tetap patut dicatat dan dihargai. Sumber-sumber yang baru saja meninggalkan Idi melaporkan keyakinan kuat di kalangan pejuang Aceh. Mereka yakin mampu mengusir Belanda dari seluruh Sumatra dalam waktu tiga bulan, asalkan mereka memiliki persenjataan dan amunisi yang memadai. Kekurangan persenjataan inilah yang menjadi faktor penentu keberhasilan Belanda sejauh ini. Bukan karena kekurangan keberanian atau strategi, melainkan karena ketidakseimbangan kekuatan persenjataan yang sangat signifikan.
Konflik berskala besar ini mencapai puncaknya pada masa kepemimpinan Teuku Chik Idi Bin Guci. Pertempuran melawan pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal Teijn merupakan pertempuran terakhir yang terjadi di masa kepemimpinannya. Pada tanggal 14 Agustus 1892, Teuku Chik Idi Bin Guci wafat. Kematian beliau hingga kini masih diselimuti misteri. Meskipun ada kabar yang menyebutkan beliau meninggal karena diracun, dokter Belanda yang memeriksa jasadnya menyatakan bahwa penyebab kematian adalah infeksi akibat luka patil ikan sembilang di punggungnya. Perbedaan pendapat ini menambah intrik pada sejarah akhir dari pemimpin yang berpengaruh ini.
Pemakaman Teuku Chik Idi Bin Guci di Keude Blang Idi dihadiri oleh berbagai kalangan. Uleebalang Kenegerian Idi, petinggi sipil dan militer Belanda, serta masyarakat Idi yang sangat mencintainya, sama-sama hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. Beliau dimakamkan di samping makam Teungku Di Merbau, seorang ulama kharismatik yang merupakan salah satu pendatang gelombang pertama ke Kenegerian Idi. Lokasi pemakaman ini pun secara simbolis menunjukkan penghormatan terhadap ulama dan leluhur.
Kepemimpinan Teuku Chik Idi Bin Guci meninggalkan warisan yang mendalam bagi Kenegerian Idi. Beliau dikenal sebagai sosok pemimpin yang memiliki jiwa kharismatik yang tinggi dan integritas yang kuat. Visi kepemimpinannya terlihat jelas dalam pembangunan dan pengembangan Kenegerian Idi. Beliau menginvestasikan dana yang sangat besar, terutama dalam mengembangkan perkebunan lada dan budidaya hewan ternak. Inisiatifnya dalam membentuk seuneubok (unit ekonomi) baru, dengan memberikan pinjaman modal kepada masyarakat, merupakan strategi kunci dalam meningkatkan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi di Kenegerian Idi. Program ini tidak hanya terbatas di Idi, tetapi juga merambah ke kenegerian tetangga seperti Ulee Gajah Bagok, menunjukkan visi kepemimpinan yang luas dan berwawasan jauh ke depan.
Pada akhir masa hidupnya di tahun 1892, produksi lada tahunan Kenegerian Idi telah mencapai angka yang luar biasa: 3.000 kuyan, atau lebih dari 60.000 pikul, yang diekspor hingga ke Penang. Keberhasilan ekonomi ini merupakan bukti nyata dari kepemimpinan visioner Teuku Chik Idi Bin Guci. Wafatnya menandai berakhirnya satu era kepemimpinan yang gemilang di Kenegerian Idi, meninggalkan warisan yang kompleks dan berdampak besar bagi sejarah daerah tersebut, dan juga menjadi catatan penting dalam sejarah perlawanan Aceh terhadap kolonialisme Belanda. Kisah perjuangan dan kepemimpinannya tetap relevan hingga kini sebagai inspirasi bagi generasi mendatang.
Setelah wafatnya Teuku Chik Idi Bin Guci pada 14 Agustus 1892, putra tertuanya, Teuku Chik Hasan Ibrahim, ditunjuk sebagai penerus kepemimpinan Kenegerian Idi. Namun, usia Teuku Chik Hasan Ibrahim yang masih sangat muda menjadi tantangan besar. Karena belum cukup dewasa untuk memimpin, pemerintahan Kenegerian Idi berada di bawah perwalian pamannya, Panglima Perang Teuku Nyak Banta Jawi, yang dibantu oleh syahbandar Teuku Nyak Geulanggang, serta di bawah pengawasan ketat dari tuha peut Idi. Hal ini sesuai dengan qanun kerajaan Aceh yang menetapkan bahwa bangsawan atau uleebalang yang belum dewasa belum dapat memegang jabatan kepemimpinan. Tanggung jawab pemerintahan dan pengasuhan pemimpin muda ini sepenuhnya berada di tangan kerabatnya yang lebih berpengalaman.
Sebuah catatan menarik datang dari Kapten J. A. Kruijt, kepala administrasi kapal Timur. Pada tahun 1874, ia mengunjungi Teuku Chik Bin Guci di kampung Aceh. Dalam kunjungan tersebut, Teuku Chik Bin Guci menceritakan tentang keberadaan sebuah kuburan keramat di antara tempat tinggalnya, di Blang Seguci. Beliau dan tokoh-tokoh lainnya secara rutin melakukan ziarah dan khanduri di makam tersebut, yang terletak di bawah pohon Merbau besar. Ketika Kapten Kruijt melakukan perjalanan ke Blang Seguci melalui jalur sungai, ia menyaksikan sendiri keberadaan kuburan Teungku Di Merbau dan pohon besar yang telah diceritakan oleh Teuku Chik Bin Guci. Kisah ini menunjukkan adanya kepercayaan dan tradisi lokal yang kuat yang tetap lestari di tengah perubahan politik dan sosial.
Sistem perwalian ini, meskipun berupaya menjaga stabilitas pemerintahan, tidak dapat sepenuhnya menghindarkan Kenegerian Idi dari berbagai tantangan. Pada tahun 1895, beberapa tokoh di Pantai Timur Aceh menerima penghargaan dari pemerintah kolonial Belanda. Teuku Mad Sahid dianugerahi medali perak atas kesetiaannya dan prestasinya sebagai penterjemah. Sementara itu, Teuku Nyak Banta (Panglima Prang Idi, wali pertama Teuku Chik Hasan Ibrahim) dan Teungku Glanggang (Syahbandar Idi, wali kedua) menerima medali perunggu atas kesetiaan mereka. Penghargaan ini menunjukkan adanya upaya Belanda untuk membina hubungan baik dengan tokoh-tokoh lokal, namun juga mencerminkan kompleksitas hubungan politik antara penguasa kolonial dan elite lokal. Pemerintah Belanda juga mendirikan kantor syahbandar dan cukai Pelabuhan di Kuala Idi pada tahun 1896, menandai semakin kuatnya pengaruh dan kendali Belanda di wilayah tersebut.
Masa kepemimpinan Teuku Chik Idi ke-II (Hasan Ibrahim) yang dimulai pada tahun 1892, diwarnai oleh masalah ekonomi yang serius. Kenegerian Idi menghadapi banyak klaim hutang dari para pedagang di Penang. Usia muda Teuku Chik Hasan Ibrahim dan kurangnya pengalaman dalam pemerintahan menyebabkan beliau kesulitan dalam mengelola keuangan daerah. Beliau juga kurang menunjukkan kepedulian terhadap kemakmuran rakyat. Situasi diperparah oleh penurunan drastis harga lada antara tahun 1892 dan 1897. Akibatnya, beliau terpaksa meminta pinjaman keuangan kepada Gubernur Belanda di Kutaraja untuk membiayai pemerintahan dan mendongkrak perekonomian Kenegerian Idi. Tata kelola keuangan yang tidak teratur dan hutang yang menumpuk kepada pedagang Tionghoa di Pulau Penang semakin memperburuk kondisi ekonomi Kenegerian Idi. Dalam situasi yang sulit ini, ibu Teuku Chik Hasan Ibrahim, Cut Nyak Mbang, berperan lebih dominan dalam mengelola pemerintahan dan keuangan Kenegerian Idi.
Upaya untuk menjaga stabilitas Kenegerian Idi Rayeuk di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan tekanan kolonial terus berlanjut. Namun, konflik bersenjata kembali terjadi. Peperangan antara pasukan muslimin di bawah pimpinan Panglima Teuku Nyak Makam, Teungku Tapa, dan pengikutnya melawan pasukan Belanda di Idi terjadi pada masa pemerintahan Teuku Chik Hasan Ibrahim. Konflik ini semakin mempersulit perekonomian Kenegerian Idi. Minimnya modal untuk pemeliharaan dan pembangunan seuneubok baru, ditambah dengan penentuan harga lada yang berada di bawah kendali pemerintah Belanda di Kutaraja, menyebabkan produksi lada menurun drastis. Produksi lada yang mencapai 3.200 kuyan pada tahun 1894 turun menjadi hanya 740 kuyan pada tahun 1899. Pada masa ini, Cut Nyak Mbang, ibu Teuku Chik Hasan Ibrahim, lebih populer dan dominan dibandingkan dengan putranya dalam mengelola Kenegerian Idi.
Di tengah situasi yang penuh tantangan ini, muncul sosok Teuku Muhammad Said dari Meulaboh. Beliau berhasil membentuk 180 tuha peut dengan modal sendiri ketika Teuku Chik Idi Bin Guci masih hidup. Hasil produksi panen lada dari setiap seuneubok di Idi mencapai 5.000 kuyan (200.000 pikul). Teuku Muhammad Said memegang peranan penting dalam menentukan kebijakan produksi dan penjualan lada Blang Seguci ke Penang. Hubungan baiknya dengan pejabat Belanda di Idi Rayeuk memberikan keuntungan politik dan finansial bagi dirinya dan pendukungnya.
Teuku Chik Hasan Ibrahim menandatangani dua perjanjian dengan pemerintah Belanda: verklaring pada 4 Februari 1895 dengan Gubernur Sipil dan Militer C. Deijkekhoef, dan korte verklaring pada 2 Agustus 1899 dengan sekretaris Pemerintahan Belanda, Paulus, di Idi Rayeuk. Meskipun demikian, kerusuhan kecil tetap terjadi. Pada suatu peristiwa, sekelompok pasukan Idi menyerang rumah L.C Westenek dan pasar Keude Aceh. Serangan ini berhasil dipukul mundur oleh pasukan Belanda yang telah bersiaga di gerbang pasar Idi. Kelompok penyerang kemudian mundur ke pedalaman Idi.
Puncak dari periode ini adalah pembunuhan Teuku Muhammad Said pada Agustus 1898. Beliau dibunuh dalam keadaan misterius saat pulang ke rumah istrinya di Bagok. Kasus pembunuhan ini menimbulkan gejolak dan pertanyaan tentang stabilitas politik dan keamanan di Idi Rayeuk. [Lanjutkan dengan analisis lebih lanjut mengenai dampak pembunuhan Teuku Muhammad Said dan perkembangan selanjutnya di Kenegerian Idi
(Episode 1)

