Globaldetik.com | BANDA ACEH – Gubernur Aceh Muzakir Manaf keluar dari kamar pribadinya. Udara pagi masih sejuk, menyapa kulitnya yang sedikit berkeringat. Setelan serba hitam dan kupiah putihnya tampak rapi, kontras dengan wajahnya yang tampak lelah namun tetap ramah. Namun Mualem, demikian ia akrab disapa, tetap menyunggingkan senyum. Senyum yang sudah lekat dengan citra beliau sebagai pemimpin yang dekat dengan Rakyat Aceh, senyum yang tulus dan menenangkan, senyum yang menyimpan beban tanggung jawab, namun juga dipenuhi harapan. Harapan untuk melihat senyum serupa di wajah rakyatnya. Ia menarik napas dalam, mempersiapkan diri untuk menghadapi hari yang panjang dan penuh makna ini.

“Yak tamulai aju (Ayo kita mulai segera),” ajak Mualem pada timnya. Suaranya terdengar tenang, namun tegas, menunjukkan kepemimpinan yang bijaksana. Tim yang terdiri dari beberapa staf dan ajudan berdiri tegap, bersiap menyertai langkah sang Gubernur Aceh. Mereka tahu, hari ini adalah hari yang istimewa. Hari berbagi, hari di mana Gubernur akan menebar kebaikan dan harapan kepada rakyatnya. Mereka telah siap membantu, menyaksikan langsung bagaimana pemimpin mereka menunjukkan kepedulian dan rasa empati.

Di tangan Mualem, segepok uang meugang untuk fakir miskin. Bukan sekadar uang, tetapi simbol dari sebuah amanah yang berat. Amanah untuk memastikan setiap warga Aceh, terutama mereka yang kurang beruntung, dapat merasakan kebahagiaan dan kehangatan Idul Fitri. Ia merasakan tanggung jawab yang besar untuk membawa sedikit keceriaan bagi mereka yang mungkin tak mampu merayakannya dengan semeriah yang lain. Ia merasakan beban moral yang besar, tetapi juga rasa syukur yang mendalam karena diberi kesempatan untuk berbagi.

Di gerbang Meuligoe, suasana ramai dan penuh haru. Seribuan fakir miskin menanti dengan sabar. Anak-anak kecil tampak antusias, mata mereka berbinar-binar penuh harapan. Sementara orang tua terlihat khusyuk dan penuh harap, mengucapkan doa dalam hati. Tua, muda, wanita dan pria berjajar rapi, membentuk barisan panjang yang membentang di sepanjang gerbang. Beberapa personel polisi, Satpol PP dan Satpam membantu mengatur barisan, menjaga agar semuanya berjalan tertib dan lancar. Kaum ibu dan anak-anak menjadi yang pertama mendapat giliran. Wajah-wajah mereka merefleksikan harapan dan rasa syukur yang terpancar dari lubuk hati terdalam. Suasana hening sejenak ketika Mualem mulai membagikan santunan, hanya terdengar suara gemerisik uang dan bisikan syukur.

Didampingi tim, Muzakir Manaf dengan sabar menyerahkan santunan uang meugang kepada satu persatu fakir miskin di pagar Meuligoe Gubernur. Sentuhan tangannya terasa hangat, menawarkan sedikit ketenangan di tengah hiruk-pikuk suasana. Di setiap tatapan mata yang ia jumpai, ia melihat cerminan kehidupan yang sederhana namun penuh makna. Ia melihat perjuangan, ketabahan, dan harapan yang tak pernah padam. Ia melihat cerminan dirinya sendiri, seorang pemimpin yang juga pernah merasakan kesulitan dan perjuangan.

“Teurimong Geunaseh Pak Gubernur,” ujar salah seorang tunanetra. “Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan dan hikmah kepada Bapak dalam memimpin Aceh, sehingga Bapak selalu menjadi pemimpin yang dicintai dan dihormati oleh rakyat.” Ucap penerima santunan. Suaranya bergetar, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam. Kata-kata sederhana itu, mengungkapkan rasa terima kasih yang tak ternilai harganya. Mualem mengangguk, menatap mata tunanetra itu dengan penuh empati. Ia merasakan betapa besarnya arti bantuan ini bagi mereka.

Selesai memberi santunan, Gubernur pun kembali ke Meuligoe. Langkahnya terasa lebih ringan. Sebagaimana diketahui, memberi santunan kepada kaum fakir miskin kerap dilakukan Mualem setiap jelang hari raya Idul Fitri. Ini bukan sekadar tradisi, tetapi sebuah komitmen. Komitmen untuk selalu berbagi dan meringankan beban masyarakat yang kurang beruntung. Komitmen yang lahir dari hati yang tulus dan penuh kepedulian.

Kebiasaan ini sudah Mualem lakukan bahkan sejak dirinya menjabat Wakil Gubernur Aceh periode 2012-2017 lalu. Hari ini, Mualem kembali berbagi santunan meugang, agar semua orang bisa tersenyum menyambut hari raya Idul Fitri. Suatu harapan tulus dari seorang pemimpin yang memahami kondisi rakyatnya. Ia berharap, sedikit bantuan ini dapat membawa kebahagiaan dan kedamaian bagi mereka yang membutuhkan.

“Tidak semua orang mempunyai kelapangan rejeki untuk membeli daging Meugang. Alhamdulillah, hari ini bisa sedikit berbagi untuk masyarakat yang membutuhkan,” ucap Mualem usai menyerahkan santunan meugang. Suaranya terdengar rendah, namun penuh makna. Kata-kata itu, merupakan refleksi dari hati seorang pemimpin yang peduli dan berempati terhadap rakyatnya. Ia berharap, kebaikan kecil ini dapat menginspirasi orang lain untuk turut serta berbagi.

 

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *