GLOBAL DETIK.COM | JAKARTA – Kabar duka mendalam menyelimuti Bumi Serambi Mekkah. Tgk. Adam Malek bin Nurdin, seorang syuhada sejati dan mantan komandan GAM yang namanya terukir dalam sejarah perjuangan Aceh, telah berpulang ke pangkuan Ilahi pada hari Selasa, 15 Oktober 2025, pukul 04.30 WIB di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Kepergian beliau meninggalkan luka yang mendalam bagi seluruh masyarakat Aceh.
Jenazah almarhum, seorang pahlawan yang tak pernah gentar, akan disemayamkan di peristirahatan terakhirnya di tanah kelahirannya, Gampong Ceurih Blang Mee, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie. Upacara pemakaman akan menjadi momen sakral bagi seluruh masyarakat Aceh untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pejuang sejati ini.
Dengan suara bergetar, Bang Jack Libya, Juru Bicara KPA Pusat, menyampaikan ungkapan belasungkawa yang mendalam atas kepergian sosok legendaris yang dikenal sebagai salah satu alumni pelatihan militer Tripoli.
“Dengan hati yang penuh duka, kami memanjatkan doa kehadirat Allah SWT, semoga segala amal ibadah almarhum diterima di sisi-Nya, diampuni segala dosa dan khilaf, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan iman dan ketabahan yang tak terhingga. Tgk. Adam Malek adalah bagian tak terpisahkan dari lembaran sejarah perjuangan Aceh yang penuh liku dan pengorbanan,” ujar Bang Jack dengan mata berkaca-kaca.
Menoleh ke masa lalu, pada era 1980-an, ratusan pemuda Aceh yang gagah berani dikirim ke Libya untuk mengikuti pendidikan militer di bawah rezim revolusioner Muammar Khadafi. Pelatihan ini merupakan bagian integral dari program World Revolutionary Center (WRC), sebuah inisiatif mulia Khadafi untuk mendukung gerakan pembebasan di seluruh dunia.
Tidak kurang dari 400 hingga 600 kader GAM pilihan digembleng di berbagai kamp militer di Libya, termasuk Tajura (Tripoli), Sabha (Libya selatan), serta Sirte dan Al-Jufra (jantung Libya). Mereka menerima pelatihan intensif dalam berbagai bidang, mulai dari strategi perang gerilya yang mematikan, teknik intelijen yang canggih, hingga penggunaan senjata berat yang mematikan.
Setelah kembali ke Tanah Rencong, para pejuang Tripoli ini menjadi tulang punggung kekuatan militer GAM dalam perjuangan bersenjata melawan pemerintah Indonesia pada dekade 1980-an hingga 1990-an. Dukungan solid dari Libya menjadi fondasi yang memperkokoh struktur organisasi dan meningkatkan kemampuan tempur GAM secara signifikan pada masa-masa awal gerakan.
Meskipun hubungan antara Aceh dan Libya mengalami pasang surut seiring perubahan politik di Tripoli, kenangan akan pengorbanan dan semangat juang para alumni Tripoli tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan Aceh, yang akhirnya bermuara pada perjanjian damai Helsinki yang bersejarah pada tahun 2005.
Kepergian Tgk. Adam Malek bin Nurdin adalah pengingat yang menyentuh hati akan pengorbanan generasi pejuang yang rela mengorbankan segalanya demi mewujudkan cita-cita mulia Aceh di masa lalu. Semoga semangat perjuangan beliau terus membara dalam setiap jiwa generasi penerus, dan semoga Allah SWT memberikan tempat yang layak di sisi-Nya. Al-Fatihah
(Red)

