Aceh Utara — Ribuan warga memenuhi Lapangan Upacara Landing, Lhoksukon, Minggu pagi, 13 September 2026. Mereka berjalan bersama dalam peringatan 800 tahun Samudera Pasai. Sejak pukul 07.00 WIB, rute jalan santai mulai dipenuhi warga dan jajaran instansi pemerintah. Sekitar dua jam kemudian, kegiatan berakhir.
Namun pagi itu bukan sekadar perkara berjalan kaki.
Di tanah yang lekat dengan jejak Kesultanan Samudera Pasai, langkah ribuan warga menjadi cara sederhana untuk menghidupkan kembali ingatan tentang masa lalu. Sejarah tidak diletakkan sebagai benda mati di buku atau ruang pamer, melainkan dibawa ke tengah kerumunan: di antara keringat, tawa, dan langkah yang beriringan.
Samudera Pasai dikenal sebagai salah satu kerajaan Islam awal di Nusantara sekaligus pusat perdagangan penting di kawasan Selat Malaka. Komoditas seperti lada dan kapur barus ikut menghidupkan bandar perdagangan yang mempertemukan pedagang dari berbagai wilayah.
Delapan abad kemudian, warisan itu dirayakan dengan cara yang lebih cair.

Jalan santai dipilih sebagai ruang perjumpaan warga. Pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai unsur lainnya berbaur tanpa jarak formal. Pesannya sederhana: sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dirawat dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Kegiatan tersebut dibuka Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil (Ayah Wa). Perhelatan itu mengusung tema “Merawat Tradisi Pasai, Membangkitkan Aceh Utara Mulia”, sejalan dengan semangat menjaga adat dan syariat dalam kehidupan masyarakat.
Setelah rute ditempuh, suasana bergeser dari olahraga ke panggung hiburan dan pengundian kupon berhadiah. Nomor demi nomor dipanggil. Warga memeriksa kupon di tangan, berharap namanya keluar.
Beberapa peserta pulang membawa hadiah utama. Di antaranya kulkas, televisi, dan mesin cuci dua tabung yang diserahkan langsung oleh Bupati Ayah Wa.
Hadiah mungkin hanya dibawa pulang oleh sebagian peserta. Tetapi ada sesuatu yang dibawa bersama oleh ribuan orang pagi itu: sebuah ingatan tentang tanah tempat sebuah kerajaan maritim pernah tumbuh dan memainkan peran penting dalam sejarah kawasan.
Delapan abad Samudera Pasai akhirnya dirayakan bukan dengan jarak, melainkan dengan langkah.
Dari Lapangan Landing, warga berjalan, berkeringat, lalu pulang. Sejarah pun kembali memperoleh ruang di tengah kehidupan sehari-hari Aceh Utara.

