Aceh Utara— Rencana pemberian penghargaan kepada wartawan terbaik dalam rangkaian peringatan 800 tahun Samudra Pasai menuai kekecewaan dari kalangan insan pers. Pasalnya, penghargaan yang sebelumnya telah dikomunikasikan dan dikonfirmasi dengan pihak terkait justru dibatalkan pada hari pelaksanaan dengan alasan keterbatasan waktu.

Humas Persatuan Wartawan Online (PWO), Jafaruddin (Den), angkat bicara terkait persoalan tersebut. Ia menyayangkan keputusan pembatalan penghargaan yang baru diketahui pada saat kegiatan berlangsung.

Menurut Jafaruddin, persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai piagam atau bentuk penghargaan yang batal diberikan. Namun, lebih kepada proses komunikasi yang sebelumnya telah dilakukan, sehingga insan pers memiliki harapan bahwa penghargaan tersebut memang akan diberikan dalam momentum besar peringatan 800 tahun Samudra Pasai.

“Yang kami sayangkan bukan hanya penghargaan itu batal. Sebelumnya sudah ada komunikasi dan konfirmasi mengenai rencana pemberian penghargaan kepada wartawan terbaik. Tetapi pada hari H justru dibatalkan dengan alasan waktu tidak cukup. Tentu ini menimbulkan kekecewaan dan pertanyaan di kalangan wartawan,” ujar Jafaruddin.

Ia menilai, apabila sejak awal terdapat kendala waktu maupun persoalan teknis, seharusnya hal tersebut dapat disampaikan sebelum kegiatan berlangsung. Dengan demikian, pihak-pihak yang berkaitan dapat memahami kondisi tersebut dan tidak menaruh harapan terhadap agenda yang akhirnya dibatalkan secara mendadak.

“Kalau memang persoalannya waktu tidak cukup, tentu kami bertanya, mengapa persoalan waktu baru menjadi alasan pada hari pelaksanaan? Padahal kegiatan sebesar peringatan 800 tahun Samudra Pasai tentu sudah dipersiapkan jauh-jauh hari,” katanya.
Jafaruddin menegaskan, insan pers tidak pernah meminta perlakuan istimewa.

Menurutnya, wartawan hanya berharap kerja jurnalistik dan kontribusi pers dalam memberitakan berbagai kegiatan, pembangunan, sejarah, serta potensi daerah juga mendapatkan perhatian yang layak.
“Wartawan tidak meminta diistimewakan. Kami hanya berharap kontribusi insan pers dihargai secara wajar. Selama ini pers ikut mengangkat berbagai kegiatan dan potensi Aceh Utara melalui pemberitaan. Karena itu, ketika ada rencana penghargaan yang sudah dikomunikasikan tetapi kemudian batal di hari H, tentu kami merasa kecewa,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar jangan sampai muncul kesan bahwa insan pers hanya dianggap penting ketika pemerintah atau pihak tertentu membutuhkan publikasi.

Sebaliknya, ketika terdapat momentum besar daerah yang seharusnya menjadi ruang kebersamaan, kontribusi wartawan justru tidak mendapatkan penghargaan sebagaimana yang telah direncanakan.

“Jangan sampai wartawan hanya dianggap penting ketika dibutuhkan untuk publikasi. Pers juga bagian dari elemen yang ikut mencatat perjalanan daerah. Apalagi momentum 800 tahun Samudra Pasai merupakan sejarah besar Aceh Utara,” ungkap Jafaruddin.

Menurutnya, penghargaan kepada wartawan bukan sekadar persoalan pemberian piagam. Lebih dari itu, penghargaan merupakan bentuk apresiasi terhadap kerja jurnalistik yang selama ini ikut menyampaikan informasi kepada masyarakat serta mendokumentasikan perjalanan pembangunan daerah.

Jafaruddin berharap persoalan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi pihak terkait, terutama dalam mempersiapkan agenda penghargaan pada kegiatan-kegiatan besar berikutnya.

“Kami berharap ke depan setiap rencana penghargaan kepada insan pers benar-benar dipersiapkan secara matang, baik dari sisi teknis maupun waktu. Jangan sampai sudah dikomunikasikan sebelumnya, tetapi kemudian dibatalkan secara mendadak pada hari pelaksanaan,” ujarnya.

Ia juga berharap pihak terkait dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai alasan pembatalan tersebut agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di kalangan insan pers.

Bagi PWO, momentum peringatan 800 tahun Samudra Pasai semestinya menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan seluruh elemen masyarakat dan memberikan apresiasi kepada berbagai pihak yang selama ini ikut berkontribusi terhadap Aceh Utara.

“Momentum 800 tahun Samudra Pasai seharusnya menjadi momentum kebersamaan. Kami berharap ke depan tidak ada lagi kejadian seperti ini, sehingga hubungan antara pemerintah dan insan pers tetap terjaga dengan baik,” pungkas Jafaruddin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *