Aceh Utara— Rangkaian peringatan 800 tahun Kerajaan Samudera Pasai di Lapangan Landing, Aceh Utara, resmi berakhir. Namun, di balik riuk pikuk kemeriahannya, acara penutupan perayaan sejarah tersebut justru memicu kontroversi dan menuai kritik tajam dari berbagai pihak.

​Penyebabnya adalah beredarnya sejumlah video di media sosial TikTok yang memperlihatkan suasana panggung hiburan pada malam penutupan. Dalam potongan video yang viral, tampak grup musik Apache tampil menghibur penonton. Perhatian publik tersedot lantaran adanya kerumunan penonton pria dan wanita yang bercampur tanpa sekat sambil berjoget mengikuti irama musik.

​Kondisi tersebut dinilai bertolak belakang dengan identitas keislaman, norma adat, serta semangat sejarah Samudera Pasai sebagai pusat peradaban Islam pertama di Nusantara.

​Pemerhati budaya Aceh, Rizki Maulizar, menyesalkan konsep penutupan perayaan yang dinilainya melenceng dari marwah acara. Ia menegaskan kritik ini bukan bentuk penolakan terhadap karya musisi lokal, melainkan penataan suasana hiburan yang dinilai kurang etis di Tanah Serambi Mekkah.

​”Sangat miris. Penutupan acara tersebut bukan dengan shalawat, melainkan dengan joget ria pria dan wanita dalam satu kerumunan. Kami bukan membenci musisi, tetapi apa bedanya dengan konser?” ujar Rizki saat dihubungi pada Senin (14/9/2026).

​Rizki juga menyentil konsistensi publik dan penyelenggara dalam menyikapi norma hiburan di Aceh.

​”Konser dikecam haram, apakah jika acara seperti ini tidak haram? Muda-mudi larut dalam euforia joget yang tentunya bukan anjuran Islam, apalagi di Tanah Serambi Mekkah ini,” tegasnya.

​Sebelumnya, Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil (Ayahwa), menyampaikan apresiasi mendalam kepada panitia, elemen masyarakat, serta para pelaku seni atas suksesnya gelaran ini. Dalam pidato berbahasa Aceh, Ayahwa menekankan pentingnya menjaga warisan nilai-nilai keislaman dan adat yang diturunkan oleh para indatu (leluhur).

​Namun, suasana malam penutupan dinilai mencederai pesan tersebut. Peristiwa ini juga menyisakan tanda tanya besar terkait slogan utama Milad ke-800 Samudera Pasai, yakni “Tajaga Adat, Tapeukong Syariat” (Menjaga Adat, Memperkuat Syariat). Publik mempertanyakan apakah slogan tersebut benar-benar dihayati atau sebatas hiasan di spanduk acara.

​Tanggapan Panitia dan Satpol PP-WH
​merespons polemik tersebut, panitia penyelenggara dan pihak pengawas syariat memberikan tanggapan singkat saat dihubungi wartawan.

​Panitia Pelaksana Muslim Syamsuddin menyatakan penjelasan resmi terkait konsep acara akan disampaikan langsung oleh Ketua Panitia melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Aceh Utara.

​Kasatpol PP-WH Aceh Utara Iskandar belum memberikan keterangan substantif terkait pengawasan di lokasi acara dan hanya menyampaikan apresiasi atas konfirmasi yang dilakukan media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *