Aceh Utara – Sungai Krueng Pirak terus mengalir, tetapi jembatan gantung yang dahulu menjadi penghubung warga Gampong Buket Guru, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara, masih terbaring dalam kerusakan. Hampir setahun setelah diterjang banjir pada November 2025, jembatan swadaya masyarakat itu belum kembali berdiri.
Di seberang sungai, sekitar delapan rumah warga masih bergantung pada akses penyeberangan tersebut. Jembatan yang dahulu memudahkan langkah kini menyisakan persoalan: bagaimana warga menyeberang ketika sungai menjadi satu-satunya penghalang menuju sisi kampung lainnya?.
Menurut keterangan warga, jembatan gantung itu ambruk akibat banjir yang melanda kawasan tersebut pada November 2025. Sejak saat itu, mereka mengaku belum melihat adanya perhatian dari pemerintah setempat untuk memulihkan akses penyeberangan tersebut.
Bagi warga Buket Guru, jembatan itu bukan sekadar bentangan tali dan papan di atas sungai. Ia adalah penghubung kehidupan sehari-hari jalan menuju sekolah, tempat beraktivitas, sekaligus jalur untuk membawa pulang hasil panen dari kebun dan sawah.
Geuchik Buket Guru, Sulaiman, yang akrab disapa Man Gadeng, mengatakan keberadaan jembatan tersebut sangat dibutuhkan masyarakat. Terlebih, terdapat sekitar delapan rumah di seberang sungai yang aktivitas penghuninya bergantung pada akses penyeberangan itu.
“ Kalau warga ingin menyeberang ke sebelah sini, mereka harus berenang. Coba bayangkan anak-anak sekolah harus berenang untuk menyeberangi sungai,” ujar Sulaiman, Selasa (27/10/2026).
Pernyataan itu menggambarkan persoalan yang lebih besar daripada sekadar infrastruktur yang rusak. Ketika jembatan tak lagi dapat digunakan, perjalanan yang semestinya ditempuh dengan berjalan kaki berubah menjadi risiko, terutama bagi anak-anak yang hendak berangkat menuntut ilmu.
Persoalan serupa juga dirasakan para petani. Menurut Sulaiman, jembatan tersebut selama ini menjadi jalur masyarakat untuk membawa hasil panen. Tanpa penghubung itu, aktivitas yang menopang kehidupan ekonomi warga menjadi lebih sulit.
Di tengah kebutuhan tersebut, warga masih menanti hadirnya perhatian dan langkah nyata untuk memulihkan akses penyeberangan. Jembatan yang dibangun secara swadaya itu kini memperlihatkan betapa pentingnya infrastruktur sederhana bagi kehidupan masyarakat di pelosok gampong.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dapat meninjau kondisi jembatan gantung tersebut dan mencari solusi agar akses penyeberangan jembatan gantung permanen yang aman kembali tersedia.
Sebab, bagi warga Buket Guru, jembatan itu bukan semata-mata bangunan di atas Krueng Pirak. Ia adalah urat nadi yang menghubungkan rumah dengan kehidupan, anak-anak dengan sekolah, serta petani dengan hasil jerih payah mereka.
Selama jembatan itu belum kembali berdiri, sungai akan terus menjadi batas yang harus mereka hadapi setiap hari. Dan di antara arus yang mengalir, harapan warga tetap tertuju pada satu hal: agar jalan penghubung itu kembali hadir, sebelum penyeberangan yang berbahaya merenggut keselamatan mereka.

