GLOBALDETIK.COM | BANDA ACEH – Pada 26 Desember 2004, gempa bumi dahsyat berkekuatan 9,2 SR mengguncang dasar laut Samudra Hindia, getarannya terasa hingga ke Aceh, Indonesia, dan negara-negara lain di sekitarnya. Namun, yang lebih mengerikan adalah tsunami yang menyusul. Gelombang raksasa setinggi puluhan meter menerjang pesisir Aceh, menghancurkan segalanya dalam sekejap mata. Rumah-rumah,

bangunan-bangunan, dan infrastruktur luluh lantak. Ribuan nyawa melayang, terseret arus ganas yang tak kenal ampun. Tangisan, jeritan, dan kepanikan memenuhi udara. Bencana ini meninggalkan luka mendalam yang tak akan pernah terlupakan bagi rakyat Aceh. Lebih dari 250 ribu jiwa melayang, meninggalkan duka yang tak terkira. Di antara puing-puing dan reruntuhan, terbentang Kuburan Massal Ulee Lheue, tempat peristirahatan terakhir bagi ribuan korban yang tak pernah ditemukan keluarganya.

Senin, 31 Maret 2025, Hari Raya Idul Fitri pertama. Di Kuburan Massal Ulee Lheue, Banda Aceh, suasana Lebaran bercampur aduk dengan kenangan pilu tsunami Aceh 2004. Di tempat peristirahatan terakhir bagi ribuan korban, lautan manusia berziarah, mengunjungi makam-makam tak bernama makam saudara, orangtua, anak, yang ditelan gelombang dahsyat yang masih membekas dalam ingatan.

Di antara mereka, Fatimah
seorang anak tunggal yang kehilangan kedua orang tuanya dalam tragedi yang menghancurkan Aceh tersebut. Setiap Lebaran, ia datang, mengunjungi makam tak bernama orang tuanya, para korban yang gugur dalam bencana dahsyat itu. “Setiap tahun dua kali saya datang, mengirimkan Al Fatihah dan Yasin,” katanya, suaranya bergetar menahan kesedihan yang mendalam. Dua puluh satu tahun telah berlalu sejak air bah menerjang pesisir Aceh, menghancurkan segalanya, termasuk kehidupan kedua orang tuanya. Bayangan wajah kedua orang tuanya masih jelas terpatri di ingatannya. “Saat itu saya baru 13 tahun. Kini, saya 34 tahun. Rasa rindu ini tak pernah hilang, apalagi saya anak tunggal,” lirihnya, menatap hamparan nisan sederhana yang tak menandai letak pasti makam orang tuanya. Hari ini, di momentum sakral Lebaran, ia datang, mencari sedikit ketenangan di tengah duka yang tak pernah benar-benar pergi. Kisah Fatimah adalah salah satu dari sekian banyak kisah duka yang lahir dari bencana tsunami Aceh 2004.

Di dekatnya, putra, mengucapkan doa untuk keluarganya yang hilang ditelan gelombang; ibu, ayah, kakak, adik, dan saudara-saudaranya. Jenazah mereka tak pernah ditemukan. Kuburan massal Ulee Lheue menjadi tempat ia melepaskan kerinduan, berharap arwah mereka tenang di sana. “Jenazah mereka tidak ditemukan di Kajhu, Aceh Besar. Kemungkinan besar mereka di sini,” katanya, suaranya bergetar menahan tangis. Kisahnya adalah gambaran nyata dari hilangnya ribuan nyawa dan keluarga yang hancur akibat Tsunami Aceh

Lebih dari 250 ribu nyawa melayang dalam bencana dahsyat itu. Ulee Lheue, dengan lebih dari 14.264 makam tak bertanda, menjadi saksi bisu atas tragedi kemanusiaan yang begitu mengerikan yang menimpa Aceh. Di hari Lebaran ini, di antara hiruk pikuk perayaan, Ulee Lheue menyimpan kesedihan yang dalam, mengingatkan kita pada betapa dahsyatnya tsunami Aceh 2004 dan betapa besarnya duka yang masih membekas di hati para korban dan keluarga mereka. Suasana sunyi di kuburan massal itu seakan berbisik, mengajak kita untuk merenung, mengenang, dan mendoakan mereka yang telah tiada, korban-korban tsunami Aceh yang tak akan pernah dilupakan oleh Rakyat Aceh

 

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *