Globaldetik.com | BANDA ACEH – Jumat, 13 Juni 2025, Ampon, keturunan bangsawan Aceh yang darah pahlawannya masih mengalir, dilanda kegetiran mendalam. Amarah membuncah menyaksikan pengabaian Kementerian Dalam Negeri atas jasa-jasa rakyat Aceh yang telah berkorban demi kemerdekaan Indonesia. Tanggal 17 Juni 1948 terpatri dalam ingatan: Presiden Soekarno meminta sumbangan untuk pesawat Seulawah Air, cikal bakal Garuda Indonesia. Sumbangan rakyat Aceh, bukan sekadar materi, melainkan bukti kesetiaan dan pengorbanan yang tak ternilai harganya. Namun, setelah semua pengorbanan itu, apa yang diterima Aceh?

Balasannya? Ketidakadilan yang melukai. Janji kesejahteraan sirna ditelan waktu. Empat pulau—Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Gadang, dan Pulau Mangkir Ketek—dicaplok; hak-hak rakyat Aceh diabaikan secara terang-terangan. Ini bukan kelalaian, melainkan pengkhianatan sistematis atas pengorbanan besar. Apakah ini cara negara membalas kesetiaan dan pengorbanan rakyatnya?

Kedermawanan rakyat Aceh, terbukti dengan sumbangan untuk Seulawah Air, dibalas dengan pengabaian yang menyayat hati. Ironis! Negara yang dibangun atas pengorbanan mereka kini melupakan dan mengabaikannya. Ini tamparan keras bagi rasa keadilan dan semangat nasionalisme. Apakah ini yang disebut sebagai penghargaan atas jasa-jasa para pahlawan?

Kementerian Dalam Negeri harus bertanggung jawab atas ketidakadilan ini. Keempat pulau itu adalah bagian tak terpisahkan dari Tanah Rencong. Ini bukan sekadar soal wilayah, melainkan soal keadilan dan penghargaan atas pengorbanan. Pengabaian ini merupakan penghinaan terhadap jasa-jasa rakyat Aceh. Kapan Kementerian Dalam Negeri akan menyadari kesalahannya?

Ampon menuntut keadilan dan penghargaan yang setimpal. Keempat pulau harus dikembalikan. Kesejahteraan rakyat Aceh harus diprioritaskan. Keheningan pemerintah adalah bentuk penghinaan yang tak termaafkan. Ampon menuntut pertanggungjawaban yang jelas dan tuntas. Keadilan dan kesejahteraan bukan sekadar janji, melainkan hak yang harus dipenuhi! Sampai kapan rakyat Aceh harus terus menunggu?

Pengabaian ini melukai hati rakyat Aceh dan menggores nurani bangsa. Ampon menyerukan tindakan tegas dan adil dari pemerintah. Pengembalian hak-hak rakyat Aceh, termasuk keempat pulau tersebut, adalah tuntutan moral yang tak bisa ditawar. Apakah pemerintah akan terus membiarkan ketidakadilan ini berlanjut?

Ampon mengajak seluruh rakyat Aceh untuk bersatu memperjuangkan hak-haknya. Perjuangan ini bukan hanya untuk keempat pulau, melainkan untuk menegakkan keadilan dan penghargaan atas pengorbanan. Suara rakyat Aceh harus didengar dan tuntutannya dipenuhi. Ini bukan sekadar protes, melainkan revolusi keadilan yang tak bisa ditunda lagi. Kapan keadilan akan ditegakkan?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *