Aceh Tamiang, Rabu 22 Oktober 2025

“Kuala Peunaga bukan kampung miskin, hanya kampung yang belum dijangkau. Jika jalan dibuka, laut dan darat akan bicara dalam bahasa yang sama: kemakmuran.”

[Iboy. Calon Datok Penghulu Kampung Kuala Penaga periode 2025 – 2031].

DI UJUNG TANAH berlumpur itu, di mana jejak sepatu bercampur dengan lumpur dan garam laut, hidup masyarakat Kuala Peunaga [kampung kecil di pesisir Timur Aceh Tamiang yang seolah terkurung waktu].

Jaraknya tak sampai sepuluh kilometer dari ibu kota Kecamatan Seruway. Tapi bagi warga di sana, jarak itu terasa seperti dunia yang lain.

Saat musim hujan, jalan tanah berubah menjadi lumpur tebal. Truk dan sepeda motor sering terperangkap. Anak-anak sekolah menggulung celana, menenteng sepatu, dan menyeberangi genangan air bercampur lumpur.

“Kalau hujan, ya begini nasib kami,” ujar Riki Ricardo, mantan Datok Penghulu Kuala Peunaga, dengan suara datar tapi matanya menyiratkan getir.

Riki masih mengingat betul, sejak Musrenbang Desa tahun 2022 hingga 2024, usulan peningkatan jalan dan pembangunan jembatan sudah berulang kali disampaikan ke pemerintah kabupaten.

Namun hasilnya nihil. “Belum ada realisasi karena belum ada jembatan penghubung dan anggaran,” katanya pelan.

Terisolir di Tengah Potensi

Penduduk Kuala Peunaga berjumlah 1.273 jiwa, tersebar dalam 320 kepala keluarga. Mereka hidup dari laut dan sawah [sekitar 70 persen nelayan, sisanya petani dan pegawai, kebanyakan guru].

Di pagi hari, perahu kayu satu per satu meluncur dari muara menuju laut lepas. Di sore hari, mereka pulang dengan hasil tangkapan seadanya, menggantungkan hidup pada musim dan cuaca.

Sebagian ibu rumah tangga di kampung ini juga ikut menopang ekonomi keluarga lewat usaha kecil: memproduksi terasi [belacan] yang menjadi oleh-oleh khas Aceh Tamiang.

Bau tajam udang rebon yang dijemur di halaman rumah sudah menjadi aroma keseharian. Namun, keterbatasan akses jalan membuat distribusi produk sering terkendala.

“Kalau jalan rusak begini, kadang kami tak bisa antar barang ke kecamatan,” tutur seorang ibu, sambil menepuk-nepuk tangan penuh garam.

Janji di Tengah Lumpur

Harapan baru datang dari Iboy, calon Datok Penghulu periode 2025–2031. Dalam visinya, ia berjanji membangun jembatan penghubung dan meningkatkan jalan kampung menjadi aspal.

Ia juga berkomitmen menghadirkan tower Telkomsel agar warga bisa berjualan secara digital. “Banyak ibu-ibu yang jualan online. Tapi sinyal kadang hilang-hilang. Saya ingin Kuala Peunaga terhubung, bukan hanya lewat jalan, tapi juga lewat jaringan,” ucapnya yakin.

Selain itu, ia bertekad melanjutkan program perhutanan sosial yang dulu diinisiasi Riki Ricardo. Saat ini, 207 sertifikat tanah sudah dibagikan kepada warga melalui program PTSL Prona. “Ini langkah awal. Kita akan lanjutkan agar masyarakat punya pegangan hukum atas tanahnya,” ujar Iboy.

Namun, di balik janji itu, masih terhampar realitas yang tak mudah diubah: jalan tanah, jembatan yang tak kunjung ada, dan keterpencilan yang membatasi ekonomi warga.

“Kami sudah pindah tiga kali karena abrasi laut. Sekarang yang kami takutkan bukan air laut lagi, tapi keterlambatan pembangunan yang membuat kami tetap tertinggal.”
Iboy, calon Datok Penghulu Kuala Peunaga

Sisa Kampung yang Tenggelam

Kuala Peunaga sekarang bukan kampung pertama. Dua lokasi sebelumnya sudah lenyap, digerus abrasi laut. Air asin menelan rumah-rumah kayu, dan memaksa warga pindah lebih ke darat. “Ini kampung ketiga kami,” ujar Iboy, menunjuk ke arah bekas lokasi lama di kejauhan yang kini menjadi lautan.

Gelombang yang dulu menjadi sahabat para nelayan kini berubah menjadi ancaman diam. Tiap kali ombak tinggi datang, mereka teringat kehilangan masa lalu yang tak bisa kembali.

Kini, meski terisolir, Kuala Peunaga menyimpan potensi besar. Sayed Anwar, Penjabat Datok sekaligus Sekretaris Camat Bendahara, menilai kampung ini sangat strategis untuk dijadikan sentra industri terasi skala besar. “Kuala Peunaga bisa jadi kampung percontohan industri hasil laut,” katanya.

Bukan hanya itu, di sekeliling kampung terbentang hutan mangrove yang masih lestari. Hutan ini bagian dari ekosistem langka yang memiliki 22 jenis spesies mangrove, salah satu yang terlengkap di Indonesia.

Sayed Anwar bermimpi menjadikan Kuala Peunaga sebagai Kampung Wisata Mangrove, sekaligus sumber Pendapatan Asli Kampung (PAD).
“Dengan pariwisata berbasis lingkungan, masyarakat bisa mandiri tanpa kehilangan identitasnya,” ujarnya.

Harapan di Tahun 2027

Masyarakat Kuala Peunaga menyimpan harapan sederhana: jalan beraspal, jembatan penghubung, air bersih, dan sinyal telepon. Mereka percaya, jika akses terbuka, ekonomi akan bangkit.

Terasi akan lebih mudah dijual, ikan lebih cepat dibawa ke pasar, dan anak-anak tak lagi belajar dalam kesunyian yang terputus dari dunia luar.

Dalam keheningan sore, di antara debur ombak dan nyanyian burung mangrove, harapan itu masih menyala (seperti pelita kecil di tengah gelapnya keterpencilan. Kuala Peunaga mungkin belum terang, tapi ia tidak pernah padam).

“Kuala Peunaga bukan kampung miskin, hanya kampung yang belum dijangkau. Jika jalan dibuka, laut dan darat akan bicara dalam bahasa yang sama; kemakmuran.”
(Iboy, Calon Datok Penghulu Kampung Kuala Penaga periode 2025 – 2031)

Potret Kecil dari Wajah Besar

Kuala Peunaga adalah potret kecil dari wajah besar pembangunan yang timpang. Di atas kertas, semua rencana telah dibuat; tapi di lapangan, masyarakat masih melangkah di atas lumpur.

Namun dari sanalah suara paling jujur tentang pembangunan lahir (dari rakyat kecil yang tak menuntut lebih, selain agar roda harapan mereka bisa ikut berputar bersama tanah air yang mereka cintai).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *