GLOBALDETIK. COM| ACEH TIMUR —Di sudut pelosok Desa Seuneubok Saboh, Pante Bidari, Aceh Timur, sebuah kisah penderitaan yang menyayat hati mulai terungkap. Masyarakat sana baru saja mengalami bencana banjir yang menyebabkan hujan deras dan meluap air Sungai Arakundo — sebuah kejadian yang tiba-tiba merobek ketenangan kehidupan sehari-hari yang sudah mereka jalani dengan susah payah. Setiap tetesan hujan yang turun seolah-olah membawa beban yang semakin berat, sampai akhirnya sungai yang dulu menyegarkan menjadi ancaman yang memusnahkan.


Ketinggian air yang mencapai antara 3 hingga 4 meter bukan hanya angka semata — itu adalah dinding air yang menutupi segala sesuatu, membanjiri rumah, ladang, dan semua yang mereka miliki. Dampaknya tak tertahankan: banyak kerusakan pada harta benda masyarakat yang sudah mereka kumpulkan selama bertahun-tahun. Tiada yang selamat dari serangan air yang ganas itu, semuanya terlibat dalam kekacauan yang tidak terduga.

Perkiraan sementara menyatakan, lebih dari 50 rumah tidak dapat dipakai lagi, bahkan sebagian hilang entah kemana rimbanya. Bayangkan betapa menyakitkannya melihat tempat tinggal yang penuh kenangan hancur lenyap, hilang bersama dengan semua kenangan yang terpatri di sana. Banyak warga juga kehilangan tempat tinggal, dengan rumah hanya tersisa lapak saja — sebuah cagar yang dulu penuh kasih sayang, kini hanya tinggal reruntuhan yang menyedihkan.

 



Kerusakan tidak hanya mengenai tempat tinggal. Selain rumah, ternak seperti kerbau, sapi, dan kambing juga hilang atau tenggelam, dan harta benda lainnya. Ternak itu bukan hanya harta benda, tapi juga sumber nafkah yang menyokong keluarga, teman yang setia, dan harapan untuk masa depan. Semua itu hilang dalam sekejap, hanyut bersama arus yang tak kenal ampun.

Tak heran jika warga merasa sedih dan putus asa karena kehilangan hampir semua harta benda mereka. Semua yang mereka perjuangkan sepanjang hidup, semua yang mereka harapkan untuk anak cucu, tiba-tiba hilang tanpa jejak. Rasa sakit dan keterasingan menyelimuti setiap jiwa, membuat mereka bertanya-tanya apa lagi yang bisa mereka lakukan di tengah kesulitan yang luar biasa ini.

Namun, diperkirakan di saat ini belum ada korban jiwa dari kalangan warga setempat — sebuah kebahagiaan yang sederhana namun berharga di tengah kegelapan. Hanya 1 orang mayat yang tak tahu dari mana, namun masyarakat mengambil kebijakan untuk ditanam di tempat Kampung tersebut. Tindakan itu menunjukkan bahwa meskipun dalam kesusahan, kebaikan dan rasa persatuan masih hidup di hati mereka — bahkan terhadap orang yang tidak dikenal, mereka memberikan tempat istirahat terakhir yang hormat.

Kisah banjir di Seuneubok Saboh adalah cerminan dari kerentanan manusia terhadap bencana alam, namun juga dari ketahanan yang luar biasa. Setiap reruntuhan rumah, setiap ternak yang hilang, dan setiap air mata yang tumpah adalah pengingat bahwa kehidupan bisa berubah dalam sekejap.

 

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *