Globaldetik.com| Aceh Tamiang — Kabupaten Aceh Tamiang diguncang banjir bandang besar setelah hujan deras berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari terakhir. Paska banjir bandang ini, bencana melanda hampir seluruh kecamatan dan menyebabkan kerusakan luas pada permukiman, fasilitas umum, serta infrastruktur vital, Senin 8 Desember 2025

Data dari posko utama penanganan bencana mencatat lebih dari 200 ribu warga terpaksa mengungsi ke berbagai titik aman. Puluhan warga dilaporkan hilang, sementara ratusan rumah mengalami kerusakan berat akibat terjangan arus deras yang membawa lumpur, kayu gelondongan, dan material longsor.

Sejumlah wilayah seperti Tamiang Hulu, Tenggulun, Bandar Pusaka, dan Sekerak menjadi daerah dengan dampak paling parah. Beberapa desa bahkan terisolasi total, dengan akses jalan tertutup material banjir dan jembatan putus.

Tim dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, dan relawan terus berupaya menembus kawasan terdampak, namun dihadapkan pada medan licin dan aliran sungai yang masih tinggi.

Bupati Aceh Tamiang Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH, menyebut banjir bandang kali ini sebagai bencana terbesar dalam dua dekade, mengingat skala kerusakan dan jumlah warga yang terdampak.

Pemerintah kabupaten telah menetapkan status tanggap darurat dan membuka posko logistik di beberapa titik untuk mempercepat distribusi bantuan.

Di lokasi pengungsian, warga membutuhkan makanan siap saji, air bersih, perlengkapan bayi, tikar, selimut, dan layanan medis. Petugas kesehatan melaporkan meningkatnya kasus penyakit kulit, demam, dan hipotermia akibat buruknya kondisi lingkungan dan debu dari lumpur kering paskah Banjir yang berterbangan serta minimnya fasilitas sanitasi.

Sementara itu, upaya penyaluran logistik ke daerah terisolasi masih terkendala. Beberapa wilayah hanya dapat dijangkau menggunakan perahu atau kendaraan berat. Pemerintah daerah bekerja sama dengan tim SAR dan relawan untuk mempercepat pembukaan akses.

Pemerintah juga mengimbau warga yang bermukim di bantaran sungai dan daerah lereng bukit untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan dan longsor, mengingat curah hujan masih tinggi dan kondisi tanah terus melemah.
Hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi korban hilang, penanganan pengungsi, serta pendataan kerusakan infrastruktur masih berlangsung.

Harapan pemerintah kepada masyarakat Aceh Tamiang untuk lebih santun dalam menerima bantuan dari LSM, komunitas, atau lembaga amal agar bantuan tetap berkelanjutan paska bencana banjir bandang dan tidak terprovokasi pada isu-isu ataupun Informasi yang tidak bertanggung jawab. (SIP Simanjuntak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *