
Aceh Tamiang, Globadetik.com — Tepat pada tanggal 24 Januari 2026, Suasana di Masjid Al-Ihsan, Kampung Kota Lintang Kecamatan Kota Kualasimpang, tampak berbeda pada Sabtu pagi. Di tengah debu sisa bencana yang masih menyelimuti udara, ratusan warga berbondong-bondong mendatangi masjid bukan hanya untuk beribadah, melainkan untuk menjemput harapan kesembuhan.
Kolaborasi kemanusiaan yang digerakkan oleh Forum Umat Islam Bekasi (FUIB) dan Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) Peduli hadir membawa misi memulihkan raga melalui pengobatan gratis.

Selain pengobatan gratis, sinergi FUIB dan JATTI Peduli memberikan perhatian khusus pada aspek psikologis-spiritual warga. Menyadari banyaknya perlengkapan ibadah yang rusak atau hilang saat bencana, tim membagikan pakaian shalat gratis berupa sarung, mukena, dan sajadah.
Tak berhenti di situ, inovasi bantuan juga terlihat dengan pembagian lampu solar cell (tenaga surya) gratis. Bantuan ini menjadi solusi krusial bagi warga yang wilayahnya masih mengalami gangguan instalasi listrik, sekaligus sebagai upaya edukasi energi terbarukan di masa darurat.
Sentuhan Medis dari Cikarang hingga Tanah Rencong
FUIB-JATTI Peduli tidak main-main dalam aksi ini. Mereka memboyong tenaga profesional lintas disiplin dari Jawa Barat menuju Aceh Tamiang.
Tim medis ini terdiri dari dua dokter dan dua perawat dari RS Syariah Ridhoka Salma, satu dokter dan dua guru dari Yayasan Ponpes Al-Imaroh, serta tiga herbalis dan dua guru dari Yayasan Qobasat Annur.
dr. Endi Roni, perwakilan tim medis dari Forum Amal Tika Bekasi, menjelaskan bahwa Kota Lintang merupakan titik keenam dari total tujuh titik pelayanan yang dijadwalkan sejak 6 Januari hingga 9 Februari 2026.
”Kebanyakan pasien yang kami periksa di sini mengeluhkan gatal-gatal (penyakit kulit), masalah metabolik seperti asam urat, hingga hipertensi yang cukup tinggi. Tekanan darah tinggi ini kemungkinan dipicu oleh faktor psikologis pasca-bencana atau pola makan tinggi garam,” ujar dr. Endi di sela-sela pemeriksaannya.
Meskipun debu di wilayah tersebut masih pekat, dr. Endi mengapresiasi kesadaran warga yang mulai tinggi dalam menggunakan masker untuk menjaga imunitas.
Integrasi Medis Modern dan Thibbun Nabawiyah
Salah satu keunikan pelayanan tim relawan kesehatan FUIB-JATTI Peduli adalah pendekatannya yang holistik. Selain pengobatan medis konvensional, warga juga mendapatkan akses pengobatan alternatif Thibbun Nabawiyah.
“Kami juga menurunkan tim herbalis untuk layanan bekam dan akupuntur. Untuk kenyamanan dan privasi, kami menyediakan tenaga herbalis perempuan untuk pasien perempuan, begitu pula untuk laki-laki,” tambah dr. Endi.

Tim juga melakukan skrining ketat terhadap kelompok rentan. Meski di Kota Lintang belum ditemukan kasus ibu hamil, tim mencatat temuan satu pasien positif hamil saat bertugas di Desa Menanggini sebelumnya.
Disisi lain, AQL Laznaz Peduli: Membasuh Luka Batin
Jika FUIB fokus pada keluhan fisik, tim relawan AQL Laznaz Peduli yang juga berada dilokasi yang sama, turut mengambil peran penting dari salah satu sudut di Masjid Al-Ihsan terlihat sedang memandu anak-anak korban banjir melalui program trauma healing.
Fokus mereka adalah mengembalikan senyum anak-anak dan ketenangan batin orang dewasa yang terdampak bencana. Melalui pendekatan spiritual dan psikologis, tim AQL berupaya memastikan bahwa warga tidak hanya sehat secara jasmani, tetapi juga tangguh secara mental untuk bangkit kembali.
Komitmen 34 Hari untuk Aceh Tamiang
Aksi di Kota Lintang ini merupakan bagian dari rangkaian panjang pengabdian FUIB-JATTI yang berpusat di Posko Tanah Terban, Karang Baru. Selama periode 6 Januari – 9 Februari, tim secara bergantian menyisir tujuh titik rawan, yaitu:
. Kampung Tanah Terban
. Kampung Batu Sumbang
. Kampung Rantau Pauh
. Kampung Tanjung Geulumpang
. Kampung Kota Lintang
. Kampung Menanggini
. Kampung Pantai Tinjau
Kehadiran para relawan dari Bekasi ini diharapkan menjadi wasilah (perantara) kesembuhan dan kekuatan bagi warga Aceh Tamiang untuk menata kembali kehidupan mereka. (Red)
