Global detik.com |Aceh Utara –
Penderitaan warga pascabanjir di Aceh Utara kian memprihatinkan. Hingga lebih dari dua bulan setelah banjir berlalu, air bersih PDAM Aceh Utara belum juga mengalir ke Desa Alue Bili Geulumpang, Kecamatan Baktiya.,28/01/2026

Kondisi ini menegaskan lemahnya pemulihan layanan dasar, sekaligus memicu kemarahan dan kekecewaan warga terhadap pemerintah daerah dan dinas terkait yang dinilai gagal merespons kebutuhan paling mendasar masyarakat.

Di saat desa-desa lain di Kecamatan Baktiya sudah kembali menikmati air bersih baik melalui jaringan PDAM maupun distribusi suplai pembagian sementara, warga setempat masih harus berjuang memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Bantuan air bersih memang sempat masuk pada awal pascabanjir, namun hanya bersifat sementara dan tidak berkelanjutan, sementara hingga kini air PDAM belum juga berfungsi normal.
“Sudah dua bulan lebih kami hidup tanpa air bersih. Desa tetangga bisa menikmati air, kenapa kami tidak ?
” ujar Zulfikar, perwakilan masyarakat. Ia menegaskan bahwa desanya bukan daerah terpencil. “Kami berada di kawasan jalan lintas, tapi perlakuan yang kami terima seperti desa yang dilupakan,” tegasnya.

Situasi ini memunculkan pertanyaan serius terhadap kinerja PDAM Aceh Utara dan dinas terkait yang dinilai lamban dan tidak responsif terhadap aduan masyarakat. Warga menyebut persoalan ini bukan terjadi dalam hitungan hari, melainkan telah berlangsung lebih dari dua bulan tanpa kejelasan penyelesaian maupun target waktu yang pasti.

Hingga kini, langkah tegas dari pemerintah daerah belum terlihat. Alasan teknis dinilai tidak lagi dapat dijadikan pembenaran ketika kebutuhan dasar masyarakat diabaikan. Jika PDAM Aceh Utara dan dinas terkait tidak mampu bekerja cepat dan menunjukkan kepekaan, warga mendesak agar dilakukan evaluasi menyeluruh, termasuk pergantian pimpinan dengan sosok yang memiliki komitmen dan kapasitas.

“Air bersih itu kebutuhan paling dasar. Jika lebih dari dua bulan saja tidak mampu diselesaikan, jangan rakyat terus yang dijadikan korban,” tambah fajriadi warga lainnya.
Masyarakat Alue Bili Geulumpang berharap pemerintah turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi riil yang dialami warga, bukan sekadar menerima laporan administratif. Warga menilai kehadiran kepala daerah dan tindakan nyata jauh lebih dibutuhkan daripada janji dan alasan yang terus berulang.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, krisis air bersih bukan hanya mencederai rasa keadilan warga, tetapi juga berpotensi semakin menggerus kepercayaan publik terhadap pelayanan dasar pemerintah daerah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *