
ACEH TAMIANG, GLOBALDETIK.COM – Proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir bandang hidrometeorologi November 2025 di Kabupaten Aceh Tamiang kini dihadapkan pada tantangan baru. Melonjaknya harga material bangunan seperti semen, besi, pasir, kerikil, hingga tanah timbun dinilai berpotensi menghambat pemulihan infrastruktur daerah.
Kondisi di lapangan menunjukkan adanya keterbatasan pasokan material lokal, khususnya pasir dan kerikil. Akibatnya, sebagian kebutuhan proyek terpaksa didatangkan dari luar daerah dengan harga yang lebih tinggi.
Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi II DPRK Aceh Tamiang dari Fraksi PPP, Ishak Ibrahim, meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tamiang segera mengambil langkah konkret. Menurutnya, Pemerintah Pusat telah menggelontorkan anggaran pascabencana dalam jumlah besar yang seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi lokal.
”Anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana sangat besar. Ini momentum untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Jangan sampai uang negara yang masuk ke Aceh Tamiang justru lebih banyak dinikmati daerah lain karena material harus didatangkan dari luar,” tegas Ishak di Karang Baru, Minggu (21/6/2026).
Ishak menduga, salah satu pemicu kelangkaan dan lonjakan harga ini adalah belum tuntasnya proses perizinan sejumlah usaha galian C di wilayah tersebut. Ia mendesak pemerintah kabupaten bersama pemerintah provinsi segera mencari solusi percepatan izin bagi usaha yang telah memenuhi ketentuan hukum dan lingkungan.
”Jika aktivitas pertambangan legal berjalan kembali, pasokan material akan terjamin, harga terkendali, dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) juga meningkat. Jangan sampai kita menjadi penonton di rumah sendiri,” tambah Ishak.
